Laman

Minggu, 25 Oktober 2015

Melamunkan Apa, Dek?


 Khayalan visual muncul dalam situasi tertentu, baik berupa hal-hal menyenangkan, harapan atau ambisi, serta dialami dalam kondisi terjaga (daydreaming). Sebagai penulis yang berambisi pada banyak hal, saya juga mudah melamun dalam beberapa waktu. Melamun mengakibatkan terputusnya pikiran seseorang dengan lingkungan di sekitarnya.
Lalu bagaimana cara melamun yang tepat? Tak jarang melamun membuat pikiran kosong beberapa saat. Jika beruntung ide tertentu akan masuk dan harus segera kita pertimbangkan. Tetapi jika lamunan tadi tidak kita solusikan, kita akan terjebak dalam lamunan-lamunan yang lebih luas lagi dan tidak berjejak. Kita mengambang dan mengakibatkan lelahnya pikiran, bahkan lebih parahnya mengakibatkan stress. Tentu saja tidak ada orang yang ingin stress bukan?
Melamunkan kekasih, misalkan saja. Apa sih yang harus kita lamunkan? Saya berpikir apa yang tengah ia lakukan dan ia pikirkan, bukankah saya bodoh jika berusaha untuk menjadi Tuhan dalam kehidupannya. Bertindak sebagai seseorang yang segalanya harus tahu dan harus dituruti.
Lalu saya juga suka membayangkan masa depan, menyebabkan lamunan panjang. Dan ternyata melamun mengakibatkan malas saya bertambah, keinginan bekerja berkurang. Bukankah melamunkan kesuksesan itu lebih nikmat? Jelas saja itu hanya bayangan yang tidak nyata. Kita hanya akan mendapatkan ketidakpastian, mimpi-mimpi berkepanjangan dan lagi-lagi penyakit pikiran.
Faktor yang menyebabkan seseorang melamun itu, menurut psikologi ada banyak faktor di antaranya tengah merasa gembira (ketemu gebetan, dapat pujian, dapat pekerjaan), faktor sedih (ditinggal kekasih, kehilangan uang, karir mandeg) , ada juga faktor  gila yakni saat kondisi otaknya memang tidak normal dan berbagai penyebab lainnya.
Dan dalam foto yang saya posting di bawah ini, saya tengah melamunkan seseorang. Orang yang harusnya sedih saat kedoknya terbongkar. Tapi tak apa, pun tak akan ada yang tahu kecuali Tuhan. saya ingin melamunkan ide menulis saja dari apa yang saya dengar dan baca, daripada melamunkan hal-hal jorok yang kadang singgah. Sebelum ide menulis itu keburu jadi debu yang beterbangan tak menentu.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar