Mars menjadi terkenal, secara budaya
ketika Giovanni Schiaparelli mengarahkan teleskop kepada planet itu dan
mengkajinya dengan seksama pada tahun 1877. Dia melihat apa yang diyakininya
sebagai terusan atau lembah pada daratan planet. Gambar Spchiaparelli jelas
memicu banyak imajinasi.
Maka dengan rasa penasaran itu dari
hari ke hari membuat obsesi manusia akan planet Mars hingga kemajuan ilmiah pun
berkembang. Rupa-rupa bentuk mahkluk luar angkasa yang diyakini sebagai
penghuni Mars tak lain adalah astronot manusia NASA yang ditinggalkan awak
pesawatnya.
Saya lalu mengandaikan banyak hal
terutama dalam fiksi yang pernah saya tulis. Seandainya saja para penghuni di
bumi yang memiliki mental serius menjadi orang terkenal, tampil di media sosial
dengan sejumlah status meyakinkan bisa –setidaknya- mencoba menghirup udara di
Mars. Tapi apa? kenyataannya. Setelah NASA melakukan penelitian berulang-ulang,
dan jika saja saya diizinkan ke tempat itu. Saya tidak akan
menemukan hawa di Mars. Hawa yang
memiliki kandungan oksigen cukup untuk dihirup. Sementara saya mengutuk
oksigen yang hilang di Bumi saya akibat kebakaran hutan, saya mencari alternative
lain untuk bernapas.
Kurangnya tekanan udara dan sangat
dingin tentu membuat saya akan pingsan dalam beberapa menit setelah pendaratan
ke Mars. Belum lagi pancaran radiasi dari luar angkasa yang secara konstan
kepada tubuh mungil saya. Jika saja saya ingin bercocok tanam untuk memenuhi
pasokan makanan tentu saya harus berjibaku dengan tanah yang memiliki toksin. Belum
lagi masa harinya yang terlalu lama di banding bumi, menyebabkan saya –seandainya
bisa hidup lebih lama- akan cepat mengantuk. Dan ratusan kerumitan lainnya akan
saya temui jika saya ngotot untuk tinggal di sana sebelum mati dehidrasi.
Jadi saya mempertimbangkan kembali
untuk tetap tinggal di bumi dan bersyukur bahwa alam bumi disediakan Tuhan Yang
Maha Esa untuk manusia yang jelas-jelas dikatakan sebagai khalifah di bumi. Tapi
betapa menyedihkannya saya hingga hari ini sejak belasan tahun lalu. Oksigen hilang
dalam satu musim. Asap atau jerebu dalam bahasa Melayu membuat dada saya
menjadi sesak dan naik turun. Hilang sudah kosentrasi dan daya imajinatif. Anak-anak
dan orang tua renta kesulitan bernapas dan segala faktor kehidupan menjadi
tersendat. Penyebabnya apa? Tentu saja keserakahan manusia. Membakar lahan untuk kepentingan
individual tanpa memikirkan aspek lingkungan.
Saya pun berkeinginan tunak di dalam
ilmu pengetahuan agar bisa suatu saat nanti, merekayasa genetika (evolusi) agar
dapat menyesuaikan bentuk para pemimpin dengan bentuk lingkungan. Agar terjadi
keseimbangan dan tidak menyebabkan kerusakan alam. Mungkin suatu saat nanti itu
benar-benar terjadi. Sebelum kita mati sebagai makhluk bumi yang tersakiti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar