Laman

Kamis, 22 Oktober 2015

Evolusi, Asap dan Cita-cita ke Mars


Mars menjadi terkenal, secara budaya ketika Giovanni Schiaparelli mengarahkan teleskop kepada planet itu dan mengkajinya dengan seksama pada tahun 1877. Dia melihat apa yang diyakininya sebagai terusan atau lembah pada daratan planet. Gambar Spchiaparelli jelas memicu banyak imajinasi.

Maka dengan rasa penasaran itu dari hari ke hari membuat obsesi manusia akan planet Mars hingga kemajuan ilmiah pun berkembang. Rupa-rupa bentuk mahkluk luar angkasa yang diyakini sebagai penghuni Mars tak lain adalah astronot manusia NASA yang ditinggalkan awak pesawatnya.

Saya lalu mengandaikan banyak hal terutama dalam fiksi yang pernah saya tulis. Seandainya saja para penghuni di bumi yang memiliki mental serius menjadi orang terkenal, tampil di media sosial dengan sejumlah status meyakinkan bisa –setidaknya- mencoba menghirup udara di Mars. Tapi apa? kenyataannya. Setelah NASA melakukan penelitian berulang-ulang, dan  jika saja saya  diizinkan ke tempat itu. Saya tidak akan menemukan hawa di Mars. Hawa yang  memiliki kandungan oksigen cukup untuk dihirup. Sementara saya mengutuk oksigen yang hilang di Bumi saya akibat kebakaran hutan, saya mencari alternative lain untuk bernapas.

Kurangnya tekanan udara dan sangat dingin tentu membuat saya akan pingsan dalam beberapa menit setelah pendaratan ke Mars. Belum lagi pancaran radiasi dari luar angkasa yang secara konstan kepada tubuh mungil saya. Jika saja saya ingin bercocok tanam untuk memenuhi pasokan makanan tentu saya harus berjibaku dengan tanah yang memiliki toksin. Belum lagi masa harinya yang terlalu lama di banding bumi, menyebabkan saya –seandainya bisa hidup lebih lama- akan cepat mengantuk. Dan ratusan kerumitan lainnya akan saya temui jika saya ngotot untuk tinggal di sana sebelum mati dehidrasi.

Jadi saya mempertimbangkan kembali untuk tetap tinggal di bumi dan bersyukur bahwa alam bumi disediakan Tuhan Yang Maha Esa untuk manusia yang jelas-jelas dikatakan sebagai khalifah di bumi. Tapi betapa menyedihkannya saya hingga hari ini sejak belasan tahun lalu. Oksigen hilang dalam satu musim. Asap atau jerebu dalam bahasa Melayu membuat dada saya menjadi sesak dan naik turun. Hilang sudah kosentrasi dan daya imajinatif. Anak-anak dan orang tua renta kesulitan bernapas dan segala faktor kehidupan menjadi tersendat. Penyebabnya apa? Tentu saja keserakahan  manusia. Membakar lahan untuk kepentingan individual tanpa memikirkan aspek lingkungan.

Saya pun berkeinginan tunak di dalam ilmu pengetahuan agar bisa suatu saat nanti, merekayasa genetika (evolusi) agar dapat menyesuaikan bentuk para pemimpin dengan bentuk lingkungan. Agar terjadi keseimbangan dan tidak menyebabkan kerusakan alam. Mungkin suatu saat nanti itu benar-benar terjadi. Sebelum kita mati sebagai makhluk bumi yang tersakiti.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar