Khayalan visual muncul dalam situasi
tertentu, baik berupa hal-hal menyenangkan, harapan atau ambisi, serta dialami
dalam kondisi terjaga (daydreaming). Sebagai penulis yang berambisi pada banyak
hal, saya juga mudah melamun dalam beberapa waktu. Melamun mengakibatkan
terputusnya pikiran seseorang dengan lingkungan di sekitarnya.
Lalu bagaimana cara melamun yang
tepat? Tak jarang melamun membuat pikiran kosong beberapa saat. Jika beruntung
ide tertentu akan masuk dan harus segera kita pertimbangkan. Tetapi jika lamunan
tadi tidak kita solusikan, kita akan terjebak dalam lamunan-lamunan yang lebih
luas lagi dan tidak berjejak. Kita mengambang dan mengakibatkan lelahnya pikiran,
bahkan lebih parahnya mengakibatkan stress. Tentu saja tidak ada orang yang
ingin stress bukan?
Melamunkan kekasih, misalkan saja.
Apa sih yang harus kita lamunkan? Saya berpikir apa yang tengah ia lakukan dan
ia pikirkan, bukankah saya bodoh jika berusaha untuk menjadi Tuhan dalam
kehidupannya. Bertindak sebagai seseorang yang segalanya harus tahu dan harus
dituruti.
Lalu saya juga suka membayangkan masa
depan, menyebabkan lamunan panjang. Dan ternyata melamun mengakibatkan malas
saya bertambah, keinginan bekerja berkurang. Bukankah melamunkan kesuksesan itu
lebih nikmat? Jelas saja itu hanya bayangan yang tidak nyata. Kita hanya akan
mendapatkan ketidakpastian, mimpi-mimpi berkepanjangan dan lagi-lagi penyakit
pikiran.
Faktor yang menyebabkan seseorang
melamun itu, menurut psikologi ada banyak faktor di antaranya tengah merasa
gembira (ketemu gebetan, dapat pujian, dapat pekerjaan), faktor sedih
(ditinggal kekasih, kehilangan uang, karir mandeg) , ada juga faktor gila yakni saat kondisi otaknya memang tidak
normal dan berbagai penyebab lainnya.
Dan dalam foto yang saya posting di
bawah ini, saya tengah melamunkan seseorang. Orang yang harusnya sedih saat
kedoknya terbongkar. Tapi tak apa, pun tak akan ada yang tahu kecuali Tuhan. saya
ingin melamunkan ide menulis saja dari apa yang saya dengar dan baca, daripada
melamunkan hal-hal jorok yang kadang singgah. Sebelum ide menulis itu keburu
jadi debu yang beterbangan tak menentu.
